Buku Tamu



Kamis, 28 April 2011

TRADISI SUROAN DI DESA BEDONO KLUWUNG

TRADISI SUROAN DI DESA BEDONO KLUWUNG KECAMATAN KEMIRI KABUPATEN PURWOREJO (Studi Budaya)

Setiap bangsa dan suku-suku di Indonesia mempunyai kebudayaan
yang berbeda-beda. Demikian pula suku Jawa yang memiliki kebudayaan khas,
terutama dalam bidang religi dengan tradisi upacaranya yang merupakan bagian
dari kehidupan sebagai pengungkapan rasa budayanya. Upacara adat tradisional

mempunyai arti bagi warga masyarakat yang bersangkutan, selain bermakna sebagai
penghormatan terhadap roh leluhur dan rasa syukur terhadap Tuhan juga sebagai
sarana sosialisasi dan pengokohan nilai-nilai budaya yang sudah ada dan berlaku
dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Seperti yang saya ketahui di Desa Bedono
Kluwung, terdapat adanya suatu tradisi Suroan yang begitu unik, berbeda dengan
tradisi Suroan di Desa Banyuraden dilaksanakan setiap menjelang tanggal 8 Suro
atau tanggal 7 Suro tengah malam, mereka mengikuti tradisi karena adanya
keyakinan mereka bahwa dengan menggunakan sisa-sisa air yang digunakan oleh Ki
Demang Cakradikrama yang dilakukan pada malam 8 Suro, akan mendapat berkah dan
harapan mereka akan dikabulkan Tuhan. Mereka melakukan hal ini untuk menghormati
arwah leluhur yang anggap begitu sakral yaitu Ki Demang cakradikrama. Sedangkan
tradisi Suroan di Desa Bedona Kluwung mereka melakukan pada malam 1 suro
bertepatan pada 1 Muharram pengajian dan kenduren sebelum melakukan
penyembelihan kambing lalu dimasak yang uniknya lagi segala sesuatunya dilakukan
oleh kaum pria, sedangkan wanitanya hanya membawa nasi dibakul. Penyembelihan
kambing itu sendiri bermakna untuk memberikan penghormatan sebagai ketaatan
mereka kepada leluhurnya. Prosesi ritualisme yang menunjukan bahwa selain
tradisi Suroan sebagai media untuk menghormati roh leluhur, juga sebagai rasa
syukur atas rahmat dan anugrah Tuhan. Di samping itu, keberadaan tradisi Suroan
dan perkembangannya di lingkungan masyarakat mempunyai dampak positif bagi
kehidupan masyarakatnya.

Copyrights : Copyright (c) 2008 by Perpustakaan Digital UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta. Verbatim copying and distribution of this entire article is
permitted by author in any medium, provided this notice is preserved

NAPAK TILAS TEMPAT LAHIR WR SUPRATMAN



Tak banyak yang tahu bahwa pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya ternyata lahir di sebuah desa terpencil di wilayah Kabupaten Purworejo. Beberapa tahun sebelumnya, tempat dan tanggal lahir WR Supratman pernah menjadi kontroversi karena beberapa dokumen kelahiran WR Supratman menyebutkan bahwa WR Supratman lahir di Jatinegara. Tetapi berdasarkan penelitian sejumlah pakar sejarah Purworejo, pada 29 Maret 2007 PN Purworejo menetapkan bahwa WR Supratman lahir di Desa Somongari, Kaligesing, Purworejo.

Untuk melacak kebenaran sejarah Kompas TV melakukan napak tilas dengan mengunjungi Rumah Kelahiran WR Supratman di Dusun Ereng Trembelang, Desa Somangari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Perjalanan menuju lokasi tersebut relatif sulit karena harus ditempuh dengan kendaraan roda dua melewati jalan yang berliku dan sesekali menanjak.

Sesampai di gerbang desa, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke lokasi . Rumah petilasan itu sekarang dijaga oleh Sriyadi yang sehari-hari bekerja sebagai petani nira.

Dalam rumah itu kita bisa menyaksikan beberapa dokumen serta uraian sejarah kelahiran Supratman, termasuk silsilah keturunan Supratman. Dari beberapa dokumen yang kita baca di rumah tersebut dapat kita ketahi bahwa Supratman ternyata tidak menikah sampai akhir hayatnya. Karena itu rumah ini biasanya menjadi objek sejarah para pelajar di Purworejo sekitarnya. Biasanya, petilasan ini ramai dikunjungi pada saat hari libur atau bulan Agustus.

Sriyadi (60) mengungkapkan bahwa sebelum dibeli oleh Pemkab Purworejo, petilasan WR Supratman merupakan tanah warisan keluarga istrinya. Sebelum direhap rumah kelahiran Supratman merupakan rumah bambu yang beratap daun tebu. Tetapi oleh Pemeritah Kabupaten Purworejo, rumah tersebut diubah mejadi rumah kayu. Bahkan salah satu sudut rumah yang diyakini sebagai tempat “ari-ari”, yang semula hanya dipasangi “kendhil” sudah dibangun cungkup (rumah kecil).

Supratman merupakan anak dari seoran g tentara bernama Senen, sersan di Batalyon VIII. Tahun 1914, Soepratman ikut salah satu saudara perempuannya yang bernama Roekijem ke Makassar. Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh kakak iparnya yang bernama Willem van Eldik yang juga merupakan guru musiknya.

Ketika tinggal di Jakarta, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Merasa tertantang, Soepratman kemudian menggubah lagu kebangsaan dan tahun 1924 lahirlah “Indonesia Raya”. Namum lagu tersebut baru dikumandangkan pada saat penutupan Kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Sumber : KOMPAS

SD KROYO KEMIRI JUARA KARAWITAN




SD Kroyo Kemiri Juara Kerawitan Tingkat Jateng

Sekolah Dasar Kroyo Kecamatan Kemiri berhasil meraih juara I cabang seni karawitan, di ajang Lomba Pekan Seni SD, SLTP dan SLTA Tingkat Jawa Tengah yang berlangsung di Donohudan Boyolali tanggal 28 s/d 29 Juni lalu. Untuk Tingkat SLTA, SMA Negeri 7 berhasil meraih juara I dari cabang seni tari. Sedangkan untuk lomba lukis putra tingkat SLTP dan vokal group tingkat SLTA, Purworejo hanya mendapatkan juara harapan II. Untuk lomba lukis Putri tingkat SLTP dan Mocopat tingkat SD, mendapatkan juara harapan III.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo melalui Kepala Bidang Pendidikan Non Formal Binmudora dan Seni Budaya Drs MGS Sukusyanto MM menjelaskan, pada Porseni tingkat Jawa tengah tahun ini Purworejo mengirimkan 8 cabang seni, tujuh diantaranya mendapat juara.
Lebih lanjut Sukusyanto mengungkapkan, Kabupaten Purworejo juga mengirimkan artis, atlit dan offisial untuk mengikuti Pospeda tingkat Jawa Tengah di Donohudan tanggal 7 sampai 11 Juni. Dari 28 artis yang dikirim Purworejo, berhasil mendapat 2 medali emas yaitu dari lomba pidato Bahasa Indonesia atas nama Umi Sa’adah dari Pondok Pesantren Al Iman Bulus. Sedangkan Roudhotun Ni’mah juga mendapatkan medali emas di cabang Kaligrafi kolase Keduanya mendapat tiket memperkuat kontingen Jawa Tengah dalam porseni Ponpes Nasional di surabaya.
Menurutnya, kedua santri itu membuktikan dinamika seni dan olahraga pesantren cukup bagus. “Mereka harus kami suport supaya bisa mengharumkan nama Purworejo,”katanya.
Sebelum berangkat, umi menjalani latihan. Kemampuannya juga sudah didemontrasikan di Dinas Pendidikan dan kebidayaan. Tema pidato yang akan dibawakan umi cukup kreatif, kritis dan cerdas, berkaitan dengan persiapan santri menghadapi globalisasi.

sumber : http://www.purworejokab.go.id

Rabu, 10 November 2010

NGINDAR YANI DICARI INDRA S (TEMAN LAMA)


SAYA SANGAT BERHARAP BISA BERTEMU ATAU TAU KHABAR NYA "NGINDAR YANI"SAHABAT LAMA SAYA YANG SLALU TERKENANG DAN DIHATI..YANG TAK BISA DI LUPAKAN...BAGI SAUDARA YANG KENAL HUBUNGI SAYA DI NO:085264365611 YANG SAYA INGAT NGINDAR YANI ITU ASAL NYA DARI KEMIRI PURWOREJO....TH 1997 S/D 1999 BEKERJA DI PT QUANTUM MUKA KUNING BATAM...TINGGAL DI DORM BLOK R7,TOLONG SAYA SAUDARA2....SAYA SANGAT BERHARAP...BANTUAN NYA....SAYA UCAP KAN RIBUAN TERIMA KASIH WASSALAM...

INDRA S

Tari Ndolalak